Mengapa Sejak Kecil Kita Lebih Sering Ditanya “Ingin Bekerja Apa?” daripada “Masalah Apa yang Ingin Kamu Selesaikan?”
Ditulis oleh: Seribu Ilmu
Setelah lulus sebagai sarjana Hubungan Internasional dan mendapatkan gelar S.Sos., saya sempat merasa marah dan malu ketika harus bekerja di dunia perbengkelan. Namun, perjalanan itu justru membuat saya memahami bahwa tujuan hidup tidak selalu ditemukan dari jabatan, melainkan dari masalah yang berhasil kita selesaikan.
Ketika masih kecil, hampir semua orang pernah mendapatkan pertanyaan yang sama.
“Kalau sudah besar, kamu ingin bekerja menjadi apa?”
Dokter?
Guru?
Polisi?
Tentara?
Pegawai negeri?
Pertanyaan tersebut terlihat sederhana. Namun, tanpa kita sadari, pertanyaan itu ikut membentuk cara kita memahami pendidikan, pekerjaan, kesuksesan, dan tujuan hidup.
Sejak kecil, kita dibiasakan untuk memilih nama profesi. Kita diminta membayangkan seragam, jabatan, ruangan kerja, dan besarnya penghasilan.
Akan tetapi, kita hampir tidak pernah ditanya:
“Masalah apa yang ingin kamu selesaikan ketika dewasa nanti?”
Padahal, mungkin pertanyaan kedua jauh lebih penting.
Ketika Gelar S.Sos. Tidak Membawa Saya ke Ruang Kantor
Saya adalah lulusan Ilmu Hubungan Internasional. Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, saya mendapatkan gelar Sarjana Sosial atau S.Sos.
Saat itu, saya memiliki gambaran tentang masa depan yang mungkin juga dimiliki banyak sarjana lainnya.
Saya membayangkan akan bekerja di sebuah kantor, mengenakan pakaian rapi, duduk di ruangan berpendingin udara, mengikuti rapat, membahas kebijakan, atau bekerja di lembaga yang berhubungan dengan pemerintahan dan hubungan antarnegara.
Kenyataannya berbeda.
Setelah lulus, saya justru bekerja dan berkecimpung di dunia perbengkelan mobil. Saya mempelajari mesin, sistem kelistrikan kendaraan, sensor, kabel, modul elektronik, dan berbagai kerusakan yang tidak pernah dibahas di bangku kuliah Hubungan Internasional.
Pada awalnya, saya merasa jengkel.
Saya marah kepada keadaan, bahkan marah kepada diri sendiri.
Dalam hati, saya sering bertanya:
“Mengapa saya kuliah bertahun-tahun jika akhirnya bekerja di bengkel?”
Saya merasa pekerjaan itu tidak sesuai dengan gelar yang telah saya perjuangkan.
Saya merasa seolah-olah perjalanan pendidikan saya tidak memiliki hubungan dengan kehidupan yang sedang saya jalani.
Mengapa Bekerja Tidak Sesuai Jurusan Sering Membuat Kita Malu?
Rasa malu itu sebenarnya tidak sepenuhnya muncul dari dalam diri kita.
Sejak kecil, lingkungan telah menanamkan bahwa pendidikan tinggi harus menghasilkan pekerjaan yang terlihat terhormat.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, dianggap semakin tinggi pula jabatan yang harus ia dapatkan.
Sarjana dianggap harus bekerja di kantor. Lulusan perguruan tinggi dianggap tidak pantas bekerja menggunakan tenaga, memegang alat, terkena oli, atau melakukan pekerjaan teknis.
Akibatnya, ketika pekerjaan tidak sesuai jurusan, kita merasa gagal.
Padahal, apakah seseorang benar-benar gagal hanya karena pekerjaan yang dijalaninya tidak sama dengan nama jurusan di ijazah?
Atau justru kita terlalu lama mengukur keberhasilan berdasarkan nama profesi, bukan berdasarkan manfaat yang dihasilkan?
Waktu Mengubah Cara Saya Memandang Bengkel
Setelah menjalani pekerjaan tersebut selama beberapa waktu, perlahan-lahan cara pandang saya mulai berubah.
Saya tidak lagi hanya melihat bengkel sebagai tempat memperbaiki kendaraan.
Saya mulai melihat orang-orang yang hidup dan bertumpu pada bengkel ini.
Ada teman-teman satu tim yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan di bengkel.
Dari penghasilan tersebut, mereka memenuhi kebutuhan keluarga, membeli makanan, membayar sekolah anak, dan mempertahankan kehidupan sehari-hari.
Saya mulai memahami bahwa bengkel bukan sekadar bangunan yang berisi alat dan kendaraan rusak.
Bengkel adalah tempat beberapa keluarga menggantungkan harapan.
Ketika bengkel berjalan dengan baik, bukan hanya kendaraan pelanggan yang kembali hidup. Ada kehidupan lain yang ikut bergerak di belakangnya.
Ucapan Terima Kasih Pelanggan Mengubah Makna Pekerjaan
Ada pula pelanggan yang datang membawa kendaraan dengan permasalahan yang cukup sulit.
Sebagian dari mereka telah berkeliling ke beberapa bengkel. Mereka telah mengganti beberapa komponen, menghabiskan biaya, dan kehilangan waktu.
Namun, masalah pada mobil mereka belum juga selesai.
Ketika akhirnya kendaraan tersebut berhasil diperbaiki, mereka mengucapkan kalimat sederhana:
“Terima kasih. Akhirnya mobil ini bisa normal kembali.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa.
Namun, bagi saya, ucapan tersebut perlahan-lahan mengubah cara saya memahami pekerjaan.
Saya mulai sadar bahwa saya bukan hanya memperbaiki sebuah mesin.
Saya sedang menyelesaikan masalah seseorang.
Kendaraan yang kembali normal mungkin membuat seorang ayah dapat kembali bekerja.
Mobil yang selesai diperbaiki mungkin membuat seorang pedagang dapat kembali mengantar barang.
Kendaraan yang aman mungkin membuat sebuah keluarga dapat melanjutkan perjalanan tanpa rasa takut.
Di situlah saya mulai memahami bahwa sebuah pekerjaan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada nama profesinya.
Saya Tidak Hanya Memperbaiki Mobil, tetapi Menyelesaikan Masalah
Ada perbedaan besar antara sekadar melakukan pekerjaan dan menyelesaikan masalah.
Seseorang yang hanya bekerja mungkin akan datang, menyelesaikan tugas, lalu pulang.
Namun, seseorang yang berusaha menyelesaikan masalah akan terus berpikir:
- Apa penyebab utama kerusakan ini?
- Mengapa perbaikan sebelumnya belum berhasil?
- Bagaimana menemukan solusi yang tepat?
- Bagaimana mencegah masalah yang sama terjadi kembali?
- Bagaimana membuat pelanggan merasa aman dan terbantu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya berlaku di dunia bengkel.
Seorang dokter menyelesaikan masalah kesehatan.
Seorang guru menyelesaikan masalah ketidaktahuan.
Seorang petani menyelesaikan masalah kebutuhan pangan.
Seorang teknisi menyelesaikan masalah kerusakan.
Seorang pengusaha menyelesaikan kebutuhan masyarakat melalui produk dan pelayanan.
Artinya, inti dari hampir semua pekerjaan adalah menyelesaikan masalah manusia.
Apakah Ilmu Hubungan Internasional Saya Menjadi Sia-Sia?
Setelah bekerja di dunia bengkel, saya pernah merasa ilmu Hubungan Internasional yang saya pelajari tidak lagi berguna.
Namun, setelah dipikirkan kembali, pendidikan tersebut ternyata tetap membentuk cara saya melihat dunia.
Ilmu Hubungan Internasional mengajarkan saya memahami hubungan antarmanusia, kepentingan, kerja sama, konflik, kekuasaan, ekonomi, komunikasi, dan perubahan sosial.
Semua itu tetap dapat digunakan dalam kehidupan nyata.
Ketika mengelola tim, saya belajar memahami manusia.
Ketika melayani pelanggan, saya belajar berkomunikasi.
Ketika membangun bengkel, saya belajar membaca kepentingan dan kebutuhan.
Ketika menghadapi masalah yang rumit, saya belajar menganalisis penyebab sebelum mengambil keputusan.
Pendidikan tidak selalu digunakan secara langsung sesuai nama mata kuliahnya.
Kadang-kadang, pendidikan bekerja secara diam-diam melalui cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, dan memahami persoalan.
Jurusan Adalah Fondasi, Bukan Penjara
Salah satu kesalahan besar dalam memahami pendidikan adalah menganggap jurusan sebagai batas kehidupan.
Lulusan hukum dianggap hanya boleh bekerja di bidang hukum.
Lulusan ekonomi dianggap harus bekerja di perbankan atau perusahaan.
Lulusan teknik dianggap harus menjadi teknisi atau insinyur.
Lulusan Hubungan Internasional dianggap harus bekerja di kedutaan, kementerian, organisasi internasional, atau lembaga pemerintahan.
Padahal, jurusan seharusnya menjadi fondasi untuk membangun kemampuan, bukan menjadi penjara yang membatasi pilihan hidup.
Dunia terus berubah. Banyak pekerjaan hari ini bahkan belum ada ketika kita masih duduk di bangku sekolah.
Karena itu, kemampuan untuk beradaptasi sering kali jauh lebih penting daripada memaksakan diri bekerja sesuai dengan jurusan.
Mengapa Kita Lebih Sering Ditanya Ingin Menjadi Apa?
Ada beberapa alasan mengapa sejak kecil kita lebih sering ditanya ingin bekerja apa.
1. Profesi Lebih Mudah Dibayangkan
Nama pekerjaan terlihat jelas dan mudah dipahami.
Anak-anak dapat mengenali dokter dari jas putih, polisi dari seragam, atau guru dari ruang kelas.
Sementara itu, pertanyaan mengenai masalah yang ingin diselesaikan membutuhkan proses berpikir yang lebih dalam.
2. Pendidikan Masih Berorientasi pada Pasar Kerja
Sekolah dan perguruan tinggi sering diukur dari seberapa banyak lulusan yang mendapatkan pekerjaan.
Akibatnya, pendidikan lebih sering diarahkan untuk memenuhi lowongan yang sudah ada daripada menciptakan solusi baru.
3. Masyarakat Menilai Kesuksesan dari Jabatan
Kita sering lebih mudah menghormati seseorang karena nama jabatannya daripada manfaat yang ia berikan.
Padahal, jabatan tinggi tidak selalu berarti manfaat yang besar. Sebaliknya, pekerjaan sederhana dapat memberikan dampak nyata bagi banyak orang.
4. Kita Takut Anak Menghadapi Ketidakpastian
Orang tua tentu menginginkan kehidupan yang aman bagi anak-anaknya.
Karena itu, mereka lebih mudah menyarankan profesi yang dianggap stabil daripada mendorong anak mengejar masalah yang ingin diselesaikan.
Namun, keamanan tidak selalu melahirkan makna.
Bagaimana Jika Sejak Kecil Kita Diajarkan Mencari Masalah?
Mencari masalah di sini bukan berarti menciptakan keributan.
Maksudnya adalah belajar melihat persoalan di sekitar dan memikirkan solusinya.
Seorang anak dapat diajak bertanya:
- Mengapa sampah menumpuk di lingkungan kita?
- Mengapa ada orang yang sulit mendapatkan air bersih?
- Mengapa kendaraan sering mengalami kerusakan yang sama?
- Mengapa petani kesulitan menjual hasil panen?
- Mengapa sebagian anak tidak mendapatkan pendidikan yang baik?
- Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu menyelesaikannya?
Pertanyaan seperti ini melatih empati, kreativitas, keberanian, dan kemampuan berpikir kritis.
Anak tidak hanya diarahkan menjadi pemilik jabatan.
Ia dilatih menjadi manusia yang berguna.
Tujuan Hidup Tidak Selalu Langsung Terlihat
Saya tidak langsung memahami tujuan hidup ketika pertama kali bekerja di bengkel.
Pemahaman itu datang perlahan-lahan.
Ia muncul ketika saya melihat tim mendapatkan penghasilan.
Ia muncul ketika pelanggan kembali tersenyum.
Ia muncul ketika sebuah masalah yang dianggap sulit akhirnya dapat ditemukan penyebabnya.
Ia muncul ketika saya menyadari bahwa pekerjaan ini memiliki dampak bagi kehidupan orang lain.
Dari sana, saya memahami bahwa tujuan hidup tidak selalu berbentuk jabatan besar.
Tujuan hidup bisa tumbuh dari tanggung jawab kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Kesuksesan Tidak Selalu Berarti Bekerja Sesuai Gelar
Kita terlalu sering menganggap sukses sebagai garis lurus.
Sekolah, kuliah, lulus, bekerja sesuai jurusan, mendapatkan jabatan, lalu memperoleh penghasilan besar.
Kenyataannya, perjalanan hidup jarang berjalan lurus.
Ada orang yang menemukan panggilannya setelah beberapa kali berganti pekerjaan.
Ada orang yang menggunakan ilmunya di bidang yang sama sekali berbeda.
Ada pula yang baru memahami manfaat pendidikannya setelah bertahun-tahun bekerja.
Kesuksesan tidak harus selalu berarti bekerja sesuai dengan nama gelar.
Kesuksesan dapat berarti menemukan tempat di mana kemampuan kita memberi manfaat paling besar.
Apa Makna Pekerjaan yang Sebenarnya?
Pekerjaan memang menjadi sumber penghasilan.
Namun, pekerjaan juga dapat menjadi tempat seseorang membangun kemampuan, membantu orang lain, menciptakan nilai, dan menemukan makna hidup.
Pekerjaan yang terlihat sederhana dapat memiliki dampak yang besar.
Seorang mekanik mungkin terlihat hanya memperbaiki kendaraan.
Namun, di balik kendaraan yang kembali berjalan, ada pekerjaan, perjalanan, usaha, dan kehidupan seseorang yang dapat dilanjutkan.
Karena itu, nilai pekerjaan tidak cukup diukur dari pakaian yang dikenakan, ruangan tempat bekerja, atau gelar yang tertulis di belakang nama.
Nilai pekerjaan juga harus dilihat dari masalah yang berhasil diselesaikan.
Pertanyaan yang Seharusnya Kita Ubah
Mungkin kita tidak perlu berhenti bertanya kepada anak tentang pekerjaan yang mereka inginkan.
Namun, pertanyaan tersebut perlu dilengkapi.
Jangan hanya bertanya:
“Kamu ingin bekerja menjadi apa?”
Tanyakan juga:
- Masalah apa yang membuatmu peduli?
- Siapa yang ingin kamu bantu?
- Hal apa yang ingin kamu perbaiki?
- Kemampuan apa yang ingin kamu kuasai?
- Manfaat apa yang ingin kamu tinggalkan?
Profesi dapat berubah.
Jabatan dapat hilang.
Teknologi dapat menggantikan sebagian pekerjaan.
Namun, manusia yang mampu melihat dan menyelesaikan masalah akan selalu dibutuhkan.
Penutup: Saya Menemukan Tujuan dari Tempat yang Pernah Membuat Saya Malu
Dahulu, saya merasa marah karena gelar S.Sos. membawa saya ke dunia bengkel.
Saya merasa jalan hidup saya tidak sesuai dengan rencana.
Namun, setelah waktu berjalan, saya mulai memahami bahwa mungkin hidup tidak sedang membawa saya menjauh dari tujuan.
Hidup justru sedang menunjukkan tujuan itu melalui jalan yang tidak pernah saya bayangkan.
Di bengkel, saya belajar bahwa ilmu tidak hanya hidup di dalam buku.
Ilmu juga hidup ketika digunakan untuk membantu orang lain.
Saya melihat teman-teman satu tim bertumpu pada bengkel ini.
Saya melihat pelanggan merasa lega setelah masalah kendaraannya selesai.
Saya melihat bahwa pekerjaan yang dahulu membuat saya malu ternyata dapat menjadi sumber kehidupan dan manfaat bagi banyak orang.
Dari sanalah saya memahami satu hal.
Tujuan hidup tidak selalu ditemukan ketika kita mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gelar. Terkadang, tujuan hidup ditemukan ketika kita menyadari masalah apa yang mampu kita selesaikan untuk orang lain.
Jadi, ketika bertanya kepada seorang anak tentang masa depannya, mungkin kita tidak cukup hanya bertanya:
“Kamu ingin bekerja menjadi apa?”
Kita juga perlu bertanya:
“Masalah apa yang ingin kamu selesaikan agar hidup orang lain menjadi lebih baik?”
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah bekerja tidak sesuai jurusan berarti kuliah sia-sia?
Tidak. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan khusus sesuai jurusan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir, berkomunikasi, menganalisis, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah. Kemampuan tersebut dapat digunakan dalam berbagai bidang pekerjaan.
Mengapa banyak sarjana malu bekerja di bidang yang berbeda dari jurusannya?
Salah satu penyebabnya adalah tekanan sosial yang menganggap pendidikan tinggi harus menghasilkan pekerjaan tertentu. Masyarakat sering menilai keberhasilan dari jabatan dan kesesuaian pekerjaan dengan gelar, bukan dari manfaat yang diberikan.
Apakah lulusan Hubungan Internasional dapat bekerja di dunia otomotif?
Bisa. Lulusan Hubungan Internasional memiliki kemampuan analisis, komunikasi, negosiasi, pemahaman sosial, dan manajemen hubungan. Kemampuan tersebut tetap relevan untuk mengelola usaha, membangun tim, melayani pelanggan, dan mengembangkan bisnis otomotif.
Apa yang lebih penting daripada memilih nama pekerjaan?
Hal yang lebih penting adalah memahami masalah yang ingin diselesaikan, kemampuan yang ingin dikembangkan, serta manfaat yang ingin diberikan kepada orang lain.
Bagaimana cara menemukan tujuan hidup melalui pekerjaan?
Tujuan hidup dapat ditemukan dengan memperhatikan siapa yang terbantu oleh pekerjaan kita, masalah apa yang berhasil kita selesaikan, kemampuan apa yang terus berkembang, dan nilai apa yang kita berikan kepada lingkungan sekitar.
Post a Comment