Ketika Sekolah Mengajarkan Kita Menghafal, Bukan Memahami
Mengapa kabel LAN harus disusun berdasarkan urutan warna tertentu?
Pertanyaan itu terlihat sederhana. Namun bagi saya, pertanyaan tersebut pernah mengubah cara berpikir tentang pendidikan.
Ketika masih sekolah, kami diajarkan cara merakit kabel LAN. Kami harus menghafal urutan warna kabel sesuai standar yang terdapat di dalam buku.
Bahkan ketika ulangan, salah satu pertanyaannya adalah tentang urutan warna kabel LAN.
Kami harus mampu menyebutkan warna pertama, kedua, ketiga, hingga warna terakhir dengan benar.
Apabila urutannya salah, jawabannya dianggap salah.
Pada saat itu kami mengikuti saja. Guru menjelaskan, kami mencatat, lalu kami menghafalnya.
Namun ada seorang guru saya bernama Pak Sahrizal yang memberikan pertanyaan kritis kepada kami.
“Mengapa kabel LAN harus diurutkan berdasarkan warna? Bukankah semuanya sama-sama kabel? Coba warnanya tidak perlu mengikuti urutan, asalkan susunan pada ujung masuk dan ujung keluar sama. Apakah kabelnya tetap dapat digunakan?”
Pertanyaan itu membuat saya mulai berpikir.
Selama ini kami hanya diajarkan bagaimana cara menyusun kabel. Namun kami tidak benar-benar diajak memahami mengapa kabel tersebut harus disusun seperti itu.
Menghafal Urutan Belum Tentu Memahami Fungsinya
Seseorang dapat menghafal seluruh urutan warna kabel LAN.
Ia dapat menjawab soal ulangan dengan benar. Ia juga dapat merakit kabel sesuai contoh yang diberikan guru.
Namun apakah itu berarti ia benar-benar memahami sistem kabel tersebut?
Belum tentu.
Menghafal urutan hanya membuat kita mampu meniru.
Sementara memahami membuat kita mampu menjelaskan, menguji, membandingkan, menemukan kesalahan, bahkan menciptakan cara yang lebih baik.
Inilah perbedaan besar antara orang yang sekadar mengetahui prosedur dengan orang yang memahami alasan di balik prosedur tersebut.
Ketika hanya menghafal, kita akan kebingungan apabila menghadapi keadaan yang sedikit berbeda dari contoh.
Namun ketika memahami prinsipnya, kita dapat menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan.
Pertanyaan Pak Sahrizal Membuka Cara Berpikir
Pertanyaan Pak Sahrizal bukan berarti standar kabel LAN tidak penting.
Standar tetap dibutuhkan agar pemasangan menjadi seragam, mudah diperiksa, dan dapat digunakan oleh banyak orang tanpa kebingungan.
Namun pertanyaan tersebut mengajarkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar urutan warna.
Kami diajak untuk tidak langsung menerima suatu teori tanpa memahami alasannya.
Kami diajak untuk bertanya: mengapa cara ini digunakan? Apa yang terjadi apabila cara tersebut diubah? Apakah hasilnya tetap sama? Apakah ada risiko? Apakah ada cara yang lebih mudah?
Melalui pertanyaan seperti itu, pelajaran tidak lagi berhenti sebagai hafalan.
Pelajaran berubah menjadi proses berpikir.
Praktik Seharusnya Disertai Pemahaman
Praktik seharusnya bukan hanya kegiatan mengikuti langkah-langkah dari buku.
Sebelum melakukan praktik, siswa perlu memahami tujuan dari pekerjaan tersebut.
Ketika praktik berlangsung, siswa juga seharusnya diajak mengamati alasan setiap langkah dilakukan.
Mengapa kabel harus dipotong dengan panjang tertentu?
Mengapa pasangan kabel harus dipertahankan?
Mengapa posisi ujung pertama dan ujung kedua harus diperhatikan?
Apa yang menyebabkan koneksi gagal?
Bagaimana cara menguji hasil pemasangan?
Apa perbedaan kabel yang dipasang dengan baik dan kabel yang hanya terlihat rapi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan membuat siswa memahami pekerjaan secara utuh.
Ia tidak hanya mampu merakit kabel LAN, tetapi juga mampu menganalisis kesalahan dan memperbaikinya.
Kita Terlalu Sering Diajarkan Mengikuti Teori
Dalam banyak pelajaran, siswa hanya disodorkan teori.
Teori tersebut ditulis di papan tulis, dicatat di buku, dihafalkan, lalu diuji melalui soal.
Siswa yang mampu mengulang teori dianggap pintar.
Sementara siswa yang banyak bertanya terkadang dianggap memperlambat pelajaran.
Padahal kemajuan ilmu justru lahir dari pertanyaan.
Seseorang bertanya mengapa sebuah benda bekerja seperti itu. Seseorang mencoba cara berbeda. Seseorang menemukan kelemahan dari metode lama. Kemudian lahirlah metode baru yang lebih baik.
Apabila semua orang hanya mengikuti teori yang sudah ada, maka tidak akan ada penemuan baru.
Kita hanya akan menjadi pengguna dari hasil pemikiran orang lain.
Apakah Cara Lama Sudah Paling Efektif?
Ketika kami merakit kabel LAN, kami menggunakan alat dan kepala konektor yang sudah tersedia.
Kami diajarkan cara memasukkan kabel satu per satu, merapikan urutan warna, memotong ujungnya, lalu menjepitnya menggunakan tang crimping.
Kami mengikuti seluruh langkah tersebut karena itulah cara yang terdapat di dalam buku.
Namun kami tidak banyak diajak bertanya apakah cara tersebut sudah paling efektif dan efisien.
Apakah ada cara agar kabel lebih mudah dimasukkan?
Apakah kepala konektor dapat dirancang agar urutan kabel tidak mudah berubah?
Apakah orang awam dapat memasangnya tanpa harus memiliki keterampilan khusus?
Apakah ada desain yang dapat membuat pemasangan lebih cepat, lebih rapi, dan mengurangi kegagalan?
Apabila siswa dibiasakan memikirkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, mungkin mereka tidak hanya mampu memasang kepala RJ45.
Mereka mungkin dapat menciptakan bentuk kepala RJ45 yang lebih praktis dan mudah digunakan.
Mungkin akan lahir alat pemasangan yang dapat membantu orang awam menyusun kabel secara otomatis.
Mungkin pula inovasi tersebut dapat diciptakan oleh anak bangsa.
Dari Pengguna Menjadi Pencipta
Salah satu kelemahan pendidikan yang terlalu menekankan hafalan adalah siswa tumbuh menjadi pengguna.
Mereka menggunakan alat yang dibuat orang lain. Mengikuti standar yang dibuat orang lain. Menerapkan teori yang ditulis orang lain.
Namun mereka jarang dilatih untuk menjadi pencipta.
Menjadi pencipta tidak selalu berarti harus menemukan teknologi yang sepenuhnya baru.
Memperbaiki desain lama juga merupakan penciptaan.
Membuat proses lebih cepat adalah inovasi.
Membuat alat lebih mudah digunakan juga merupakan kemajuan.
Mengurangi kesalahan dalam pekerjaan adalah bentuk penemuan.
Namun semua itu hanya dapat lahir apabila siswa diperbolehkan bertanya, menguji, gagal, dan mencoba kembali.
Teori Bukan Sesuatu yang Harus Disembah
Teori sangat penting dalam pendidikan.
Teori membantu kita memahami hasil pemikiran dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
Tanpa teori, kita mungkin harus mengulang seluruh proses penemuan dari awal.
Namun teori tidak seharusnya membuat kita berhenti berpikir.
Teori bukan sesuatu yang harus diterima secara buta.
Teori perlu dipahami, diuji, dibandingkan, dan digunakan sesuai keadaan.
Sebuah teori dapat bekerja dengan baik dalam satu kondisi, tetapi belum tentu menjadi pilihan terbaik dalam kondisi lainnya.
Ilmu pengetahuan berkembang karena teori terus diuji.
Ketika ditemukan kelemahan, teori diperbaiki. Ketika ditemukan bukti baru, pemahaman manusia juga berubah.
Karena itu, tugas siswa bukan hanya menghafal kesimpulan.
Siswa juga perlu memahami bagaimana kesimpulan tersebut diperoleh.
Tidak Semua Teori Benar Selamanya
Tidak ada teori yang harus dianggap benar untuk selamanya tanpa boleh dipertanyakan.
Namun bukan berarti seluruh teori dapat ditolak sesuka hati.
Teori harus diuji dengan alasan, bukti, percobaan, dan hasil yang dapat dibandingkan.
Kita tidak cukup hanya berkata bahwa sebuah teori salah.
Kita perlu menunjukkan di mana kelemahannya, dalam kondisi apa ia gagal, dan apakah terdapat cara yang lebih baik.
Di sinilah pentingnya proses mencoba dan memperbaiki.
Dalam dunia praktik, kegagalan bukan selalu tanda bahwa seseorang bodoh.
Kegagalan dapat menjadi data.
Dari kegagalan, kita mengetahui cara yang tidak bekerja. Kemudian kita mencoba kembali dengan pendekatan yang berbeda.
Proses inilah yang sering disebut sebagai trial and error.
Trial and Error adalah Bagian dari Belajar
Banyak siswa takut melakukan kesalahan karena sejak kecil kesalahan selalu dikaitkan dengan nilai buruk.
Jawaban salah diberi tanda merah. Praktik gagal dianggap tidak mampu. Nilai rendah dianggap sebagai kegagalan.
Akibatnya, siswa memilih mengikuti contoh yang sudah ada daripada mencoba cara baru.
Mereka takut apabila percobaannya gagal.
Padahal dalam proses menciptakan sesuatu, kegagalan adalah hal yang biasa.
Produk yang berhasil biasanya lahir setelah banyak percobaan yang tidak berhasil.
Metode yang efektif sering ditemukan setelah seseorang mencoba berbagai cara yang kurang efektif.
Kesalahan bukan akhir dari proses belajar.
Kesalahan justru dapat menjadi awal dari pemahaman yang lebih dalam.
Pendidikan Harus Mengajarkan Cara Bertanya
Selama ini kita sering mengukur kemampuan siswa dari seberapa banyak jawaban yang dapat ia berikan.
Padahal kualitas pendidikan juga dapat dilihat dari seberapa baik pertanyaan yang mampu diajukan oleh siswa.
Mengapa alat ini dibuat seperti ini?
Mengapa prosedur ini harus dilakukan?
Apakah terdapat cara yang lebih sederhana?
Apa yang terjadi apabila salah satu bagian diubah?
Bisakah biaya pembuatannya dikurangi?
Bisakah alat ini digunakan oleh orang yang tidak memiliki keahlian?
Pertanyaan seperti inilah yang melahirkan inovasi.
Pertanyaan membuat siswa tidak hanya menerima dunia sebagaimana adanya.
Ia mulai membayangkan bagaimana dunia dapat dibuat menjadi lebih baik.
Guru yang Baik Tidak Hanya Memberikan Jawaban
Pengalaman bersama Pak Sahrizal membuat saya memahami bahwa guru yang baik tidak selalu memberikan semua jawaban.
Kadang-kadang seorang guru justru memberikan pertanyaan yang membuat siswanya berpikir bertahun-tahun.
Pertanyaan sederhana tentang urutan warna kabel LAN ternyata dapat membuka pembahasan yang jauh lebih besar.
Tentang standar, fungsi, efisiensi, inovasi, teori, dan cara berpikir.
Guru seperti itu tidak hanya mengajarkan mata pelajaran.
Ia mengajarkan keberanian untuk berpikir.
Ia tidak hanya ingin siswanya mampu menjawab soal.
Ia ingin siswanya mampu mempertanyakan masalah dan menemukan jalan keluarnya.
Penutup
Merakit kabel LAN bukan hanya tentang menghafal urutan warna.
Pelajaran yang jauh lebih penting adalah memahami mengapa urutan tersebut digunakan, bagaimana sistemnya bekerja, dan apakah terdapat cara yang lebih baik.
Pendidikan seharusnya tidak membuat siswa hanya menjadi pengikut teori.
Pendidikan seharusnya melatih siswa memahami teori, mengujinya, menemukan kekurangannya, dan mengembangkan pengetahuan baru.
Kita tidak seharusnya hanya diajarkan cara menggunakan sebuah produk.
Kita juga harus diajak berpikir bagaimana produk itu dapat diperbaiki atau diciptakan kembali dengan cara yang lebih efektif dan efisien.
Sebab bangsa yang hanya menghafal akan terus menjadi pengguna.
Sementara bangsa yang berani bertanya, mencoba, gagal, lalu mencoba kembali memiliki kesempatan menjadi pencipta.
Dari pertanyaan sederhana Pak Sahrizal, saya mulai memahami bahwa belajar bukan hanya menerima apa yang tertulis di dalam buku.
Belajar adalah proses memahami, mempertanyakan, menguji, dan menemukan.
Karena tidak semua hal yang telah lama dilakukan berarti sudah menjadi cara terbaik.
Dan tidak semua teori harus berhenti sebagai teori yang hanya dihafalkan.
Penulis: Djatmiko
Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis berdasarkan pengalaman selama menempuh pendidikan. Penyebutan nama guru dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap pembelajaran kritis yang pernah diberikan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menolak standar teknis atau teori ilmiah, melainkan untuk mendorong proses belajar yang disertai pemahaman, pengujian, dan keberanian berinovasi.

Post a Comment