Hidup Berubah Setelah Meninggalkan Instagram dan TikTok
Mengapa Hidup Saya Berubah Setelah Berhenti Bermain Instagram dan TikTok?
Ditulis oleh Djatmiko
Sejak sekitar Agustus, saya hampir tidak pernah lagi aktif membuka Instagram dan TikTok. Media sosial yang masih sering saya gunakan adalah Facebook.
Awalnya saya tidak memiliki rencana besar untuk mengubah hidup. Saya hanya semakin jarang membuka kedua aplikasi tersebut.
Namun setelah menjalaninya selama beberapa bulan, saya menyadari bahwa ada perubahan besar dalam diri saya.
Yang berubah bukan hanya aplikasi yang saya buka. Cara saya menggunakan waktu, memilih informasi, dan memandang kehidupan ikut berubah.
Saya Menjadi Lebih Fokus Mengembangkan Proyek
Salah satu perubahan yang paling saya rasakan adalah saya menjadi lebih fokus mengembangkan proyek yang sedang saya kerjakan.
Di Facebook, saya banyak menemukan engineer, teknisi elektronika, programmer, mekanik, dan orang-orang yang gemar membuat sesuatu.
Mereka membagikan berbagai pengalaman. Ada yang membuat alat berbasis mikrokontroler, memperbaiki mesin, merancang sistem, mempelajari pemrograman, hingga menyelesaikan masalah teknis yang sebelumnya terlihat rumit.
Melihat orang-orang tersebut membuat saya lebih sering bertanya:
Bagaimana cara membuatnya?
Bagaimana sistem itu bekerja?
Apakah saya juga bisa mencobanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian mendorong saya untuk mengembangkan berbagai proyek sendiri.
Saya menjadi lebih serius membangun sistem untuk Nill One Garage, mempelajari elektronika, mencoba perangkat berbasis ESP32, dan mencari solusi untuk berbagai masalah yang saya temukan di bengkel.
Saya tidak hanya melihat karya orang lain. Saya mulai terdorong untuk menciptakan sesuatu dari kemampuan yang saya miliki.
Saya Lebih Banyak Membaca dan Menulis
Perubahan berikutnya adalah saya menjadi lebih banyak membaca.
Saya mulai menikmati proses mencari informasi, memahami sebuah masalah, lalu menghubungkannya dengan pengalaman yang saya alami sendiri.
Kebiasaan membaca itu kemudian membawa saya pada kegiatan menulis.
Saya menulis tentang pengalaman bekerja di bengkel, pendidikan, teknologi, ekonomi, kehidupan, dan berbagai pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran.
Menulis membuat saya menyadari bahwa sebuah pengalaman tidak harus berhenti sebagai kejadian pribadi.
Pengalaman dapat diolah menjadi pelajaran. Pelajaran dapat menjadi tulisan. Tulisan tersebut mungkin dapat membantu orang lain memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pikirkan.
Dahulu, waktu luang sering digunakan untuk melihat apa yang sedang dilakukan orang lain. Sekarang, waktu itu lebih banyak saya gunakan untuk memahami apa yang sedang saya pikirkan sendiri.
Saya Memang Ketinggalan Berita yang Sedang Viral
Berhenti aktif di Instagram dan TikTok bukan berarti tidak memiliki kekurangan.
Saya menjadi lebih sering ketinggalan berita yang sedang ramai. Saya terkadang tidak mengetahui video yang sedang viral, tren terbaru, istilah populer, atau peristiwa yang sedang banyak dibicarakan.
Ketika orang lain membicarakan sebuah tren, saya terkadang hanya bisa mendengarkan karena tidak mengetahui konteksnya.
Awalnya saya mengira hal itu akan menjadi masalah besar.
Ternyata tidak.
Kehidupan tetap berjalan meskipun saya tidak mengetahui semua hal yang sedang viral.
Sebagian besar berita populer hanya ramai selama beberapa hari. Setelah itu, perhatian masyarakat berpindah kepada hal lain.
Sementara itu, ilmu yang kita pelajari, karya yang kita bangun, dan kemampuan yang kita kembangkan dapat memberikan manfaat dalam waktu yang jauh lebih panjang.
Mana yang lebih penting: selalu mengetahui sesuatu yang sedang viral, atau setiap hari memiliki pengetahuan baru?
Saya Tidak Lagi Sering Melihat Kemewahan Semu
Ada perubahan lain yang menurut saya sangat penting.
Saya tidak lagi terlalu sering melihat orang memamerkan mobil baru, rumah besar, pakaian mahal, perjalanan wisata, makanan mewah, atau kehidupan yang terlihat selalu bahagia.
Bukan berarti memiliki kekayaan atau membagikan kebahagiaan adalah sesuatu yang salah.
Namun ketika kita melihat kemewahan orang lain setiap hari, kita dapat mulai merasa bahwa kehidupan kita sendiri tidak cukup baik.
Kita melihat seseorang membeli mobil, tetapi tidak mengetahui cicilannya.
Kita melihat seseorang berlibur, tetapi tidak mengetahui masalah yang sedang dihadapinya.
Kita melihat foto keluarga yang tersenyum, tetapi tidak mengetahui pertengkaran yang terjadi sebelum atau sesudah foto tersebut diambil.
Media sosial sering memperlihatkan hasil terbaik dari kehidupan seseorang, sedangkan kita membandingkannya dengan seluruh kesulitan yang ada dalam hidup kita sendiri.
Perbandingan seperti itu tentu tidak adil.
Setelah tidak terlalu sering melihat kemewahan semu tersebut, saya merasa lebih mudah menghargai apa yang sedang saya miliki dan kerjakan.
Saya tidak lagi terlalu sibuk bertanya:
Mengapa saya belum memiliki apa yang dimiliki orang lain?
Saya mulai lebih sering bertanya:
Apa yang dapat saya bangun dengan kemampuan yang saya miliki sekarang?
Waktu untuk Melihat Kehidupan Orang Lain Berubah Menjadi Waktu Membangun Kehidupan Sendiri
Inilah salah satu perubahan terbesar yang saya rasakan.
Waktu yang sebelumnya dapat habis untuk melihat kehidupan orang lain sekarang lebih banyak digunakan untuk membangun kehidupan saya sendiri.
Saya memang belum menjadi orang yang paling berhasil.
Proyek yang saya kerjakan juga belum semuanya selesai. Masih banyak kekurangan, kesalahan, dan hal-hal yang harus saya pelajari.
Namun setidaknya saya sedang bergerak.
Saya tidak hanya menonton orang lain menciptakan sesuatu. Saya ikut mencoba.
Saya tidak hanya mengagumi keberhasilan orang lain. Saya mulai membangun jalan saya sendiri.
Saya tidak hanya mengonsumsi informasi. Saya mulai menghasilkan tulisan, sistem, ide, dan karya.
Lalu Muncul Sebuah Pertanyaan
Setelah melihat berbagai perubahan tersebut, saya mulai memikirkan satu pertanyaan yang lebih besar.
Mengapa perhatian manusia menjadi sesuatu yang sangat berharga di era digital?
Mengapa perubahan pada apa yang saya lihat setiap hari dapat mengubah cara saya berpikir?
Mengapa ketika perhatian saya tidak lagi banyak diarahkan kepada tren dan kehidupan orang lain, saya justru memiliki lebih banyak tenaga untuk membaca, menulis, dan mengembangkan proyek?
Mungkin karena perhatian bukan sekadar kegiatan melihat sesuatu.
Perhatian adalah arah bagi pikiran kita.
Apa yang terus kita perhatikan akan memenuhi pikiran. Apa yang memenuhi pikiran akan memengaruhi keputusan. Keputusan yang dilakukan berulang kali akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu perlahan membentuk arah kehidupan.
Jika perhatian kita setiap hari diarahkan kepada kehidupan orang lain, kita mungkin akan semakin sering membandingkan diri.
Jika perhatian diarahkan kepada ilmu, masalah, dan karya, kita akan semakin sering berpikir tentang cara belajar dan menciptakan sesuatu.
Karena itu, perhatian mungkin merupakan salah satu kekayaan terbesar yang dimiliki manusia.
Uang yang hilang masih dapat dicari kembali. Barang yang rusak dapat diganti. Namun waktu dan perhatian yang telah kita berikan tidak dapat ditarik kembali.
Apakah Semua Orang Harus Meninggalkan Instagram dan TikTok?
Tulisan ini bukan ajakan agar semua orang meninggalkan Instagram dan TikTok.
Saya juga tidak mengatakan bahwa Facebook selalu lebih baik. Setiap media sosial dapat berisi ilmu, hiburan, bisnis, kebohongan, kemewahan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Hal yang lebih penting adalah memahami untuk apa kita menggunakan media sosial.
Apakah media sosial membantu kita berkembang?
Apakah media sosial mempertemukan kita dengan orang-orang yang membuat kita ingin belajar?
Atau justru membuat kita lelah karena terus merasa tertinggal dari kehidupan orang lain?
Setiap orang mungkin memiliki jawaban yang berbeda.
Namun kita tetap perlu menyadari bahwa apa yang kita lihat setiap hari tidak pernah benar-benar netral. Semua itu dapat memengaruhi suasana hati, keinginan, keputusan, dan cara kita menilai kehidupan.
Kesimpulan
Sejak berhenti aktif bermain Instagram dan TikTok, saya merasakan beberapa perubahan besar.
Saya menjadi lebih fokus mengembangkan proyek, lebih banyak membaca dan menulis, serta tidak lagi terlalu sering melihat kemewahan yang membuat saya membandingkan hidup dengan orang lain.
Saya memang menjadi lebih sering ketinggalan berita yang sedang viral.
Namun sebagai gantinya, saya mendapatkan waktu, ketenangan, dan perhatian yang lebih besar untuk membangun sesuatu.
Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa persoalan utamanya bukan sekadar aplikasi apa yang kita gunakan.
Persoalannya adalah ke mana kita memberikan perhatian.
Waktu yang kita gunakan untuk melihat kehidupan orang lain dapat menjadi waktu yang hilang untuk membangun kehidupan kita sendiri.
Karena itu, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah apa yang saya lihat setiap hari sedang membantu saya membangun masa depan, atau justru membuat saya lupa menjalani kehidupan sendiri?
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa manfaat berhenti bermain Instagram dan TikTok?
Manfaatnya dapat berbeda bagi setiap orang. Dalam pengalaman saya, mengurangi Instagram dan TikTok membuat saya lebih fokus mengembangkan proyek, membaca, menulis, dan mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Apakah berhenti menggunakan media sosial membuat kita ketinggalan informasi?
Kita mungkin menjadi lebih lambat mengetahui tren atau berita viral. Namun tidak semua informasi populer memiliki manfaat jangka panjang. Informasi penting tetap dapat diperoleh dari sumber lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Apakah Facebook lebih baik daripada Instagram dan TikTok?
Tidak selalu. Manfaat sebuah media sosial bergantung pada tujuan penggunaannya, orang-orang yang diikuti, dan jenis informasi yang dipilih. Dalam pengalaman saya, Facebook lebih banyak mempertemukan saya dengan teknisi, engineer, dan pembuat proyek.
Mengapa perhatian disebut berharga di era digital?
Karena perhatian menentukan ke mana waktu dan pikiran kita diarahkan. Hal yang terus kita perhatikan dapat memengaruhi kebiasaan, keputusan, dan arah hidup dalam jangka panjang.
Post a Comment