Apakah Pendidikan Tinggi Seharusnya Mencetak Pencari Kerja atau Pencipta Lapangan Kerja?

Table of Contents

Ditulis oleh: Seribu Ilmu

Beberapa hari terakhir, saya cukup kesal membaca keluhan dari sebagian lulusan perguruan tinggi.

Sudah sarjana, tetapi masih mengeluh sulit mendapatkan pekerjaan.

Ketika pekerjaan tersedia, mereka mengatakan gajinya terlalu kecil. Ketika gajinya dianggap cukup, mereka kembali mengeluh karena pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan jurusan kuliah.

Dari sini muncul sebuah pertanyaan penting.

Apakah pendidikan tinggi memang seharusnya mencetak pencari kerja atau justru menciptakan manusia yang mampu membuka lapangan kerja?

1. Gelar Sarjana Bukan Jaminan Mendapatkan Pekerjaan

Sejak kecil, banyak dari kita dibesarkan dengan pola pikir yang hampir sama.

Belajar yang rajin, masuk sekolah terbaik, melanjutkan ke perguruan tinggi, mendapatkan gelar, lalu memperoleh pekerjaan dengan gaji besar.

Pola tersebut kemudian membuat sebagian orang menganggap bahwa setelah lulus kuliah, dunia kerja wajib menyediakan tempat bagi mereka.

Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Gelar sarjana memang penting. Namun, gelar bukanlah jaminan bahwa seseorang otomatis mendapatkan pekerjaan.

Perusahaan tidak membayar seseorang hanya karena ia memiliki ijazah.

Perusahaan membayar seseorang karena ia mampu memberikan nilai, menyelesaikan masalah, meningkatkan produktivitas, dan memberikan manfaat bagi tempatnya bekerja.

2. Mengapa Banyak Sarjana Masih Berorientasi Menjadi Pencari Kerja?

Salah satu penyebabnya adalah sistem pendidikan kita masih terlalu sering mengarahkan siswa untuk mencari jawaban yang benar, bukan menciptakan jawaban baru.

Sejak sekolah, kita terbiasa menghafal pelajaran, mengerjakan ujian, mendapatkan nilai tinggi, lalu naik kelas.

Kita jarang diajarkan bagaimana melihat masalah di lingkungan sekitar, bagaimana membaca peluang, bagaimana menjual gagasan, atau bagaimana menciptakan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat.

Akibatnya, setelah lulus kuliah, sebagian orang hanya memiliki satu pertanyaan.

“Di mana saya bisa bekerja?”

Padahal, seharusnya ada pertanyaan lain yang juga muncul.

“Masalah apa yang bisa saya selesaikan?”

3. Pekerjaan Tidak Selalu Harus Sesuai Jurusan

Banyak lulusan menolak pekerjaan karena merasa bidang tersebut tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya.

Padahal, jurusan seharusnya menjadi dasar untuk membentuk cara berpikir, bukan menjadi pagar yang membatasi masa depan.

Tidak sedikit lulusan hukum yang menjadi pengusaha.

Ada lulusan teknik yang bekerja sebagai kreator konten.

Ada lulusan ekonomi yang membangun usaha kuliner.

Ada pula lulusan hubungan internasional yang bekerja di bengkel, dunia digital, perdagangan, atau teknologi.

Apakah itu berarti pendidikan mereka sia-sia?

Tentu tidak.

Pendidikan tetap memberikan kemampuan membaca, menulis, berkomunikasi, menganalisis masalah, memahami manusia, dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.

Ilmu tersebut tetap berguna, meskipun bentuk pekerjaannya berbeda dari nama jurusan yang tertulis pada ijazah.

4. Gaji Kecil Bisa Menjadi Tahap Belajar

Keluhan berikutnya adalah mengenai gaji.

Sebagian lulusan baru merasa bahwa gelar sarjana seharusnya langsung dibayar mahal.

Mereka mungkin lupa bahwa perusahaan tidak hanya menilai pendidikan, tetapi juga pengalaman, kemampuan, tanggung jawab, kedisiplinan, dan hasil kerja.

Gaji awal yang kecil memang tidak selalu ideal. Bahkan, dalam beberapa kasus, ada perusahaan yang memberikan upah tidak layak.

Namun, tidak semua pekerjaan bergaji kecil harus langsung dianggap tidak berguna.

Ada pekerjaan yang memberikan pengalaman, jaringan, kemampuan, dan pemahaman tentang dunia kerja.

Pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik atau membangun usaha sendiri.

Masalahnya bukan hanya kecil atau besarnya gaji.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah pekerjaan ini membuat kemampuan saya bertambah?”

5. Pendidikan Tinggi Seharusnya Mengajarkan Cara Berpikir

Pendidikan tinggi tidak seharusnya hanya mencetak orang yang mampu membuat surat lamaran kerja.

Pendidikan tinggi seharusnya melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan memecahkan masalah.

Dunia terus berubah.

Teknologi berkembang, jenis pekerjaan baru bermunculan, sementara beberapa pekerjaan lama mulai menghilang.

Dalam kondisi seperti ini, kemampuan yang paling penting bukan hanya menguasai satu bidang.

Kemampuan yang paling penting adalah kemampuan untuk terus belajar.

Orang yang mampu belajar akan tetap menemukan jalan, meskipun pekerjaan yang tersedia tidak sama dengan apa yang ia pelajari di bangku kuliah.

6. Tidak Semua Orang Harus Menjadi Pengusaha

Berbicara tentang pencipta lapangan kerja bukan berarti semua lulusan harus menjadi pengusaha.

Negara tetap membutuhkan guru, dokter, perawat, teknisi, peneliti, pegawai negeri, karyawan swasta, dan berbagai tenaga profesional lainnya.

Menjadi pekerja bukanlah sesuatu yang rendah.

Namun, setiap orang sebaiknya memiliki pola pikir seorang pencipta.

Ketika melihat masalah, ia mencari solusi.

Ketika melihat kebutuhan, ia memikirkan cara untuk memenuhinya.

Ketika tidak ada peluang, ia berusaha menciptakan peluang.

Pola pikir seperti ini berguna bagi seorang karyawan maupun seorang pengusaha.

7. Jangan Hanya Menyalahkan Mahasiswa

Meski demikian, kesalahan ini tidak sepenuhnya berada di pundak mahasiswa atau lulusan baru.

Keluarga, sekolah, kampus, pemerintah, dan lingkungan sosial juga memiliki peran besar.

Sejak kecil, banyak anak lebih sering ditanya ingin bekerja sebagai apa daripada ingin menciptakan apa.

Orang tua merasa lebih tenang ketika anaknya menjadi pegawai daripada ketika anaknya mencoba membangun usaha.

Kampus juga sering lebih bangga mengumumkan jumlah lulusan yang diterima bekerja dibandingkan jumlah lulusan yang membangun usaha dan membuka pekerjaan.

Artinya, perubahan tidak cukup hanya menuntut mahasiswa agar lebih mandiri.

Sistem pendidikan juga harus mulai memberikan ruang lebih besar bagi kreativitas, kewirausahaan, praktik langsung, dan kemampuan menyelesaikan masalah nyata.

8. Dari Pencari Lowongan Menjadi Pencipta Nilai

Barangkali yang harus diubah bukan hanya cara mencari pekerjaan, tetapi juga cara melihat diri sendiri.

Seorang lulusan tidak seharusnya hanya melihat dirinya sebagai seseorang yang membutuhkan pekerjaan.

Ia juga harus melihat dirinya sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan, tenaga, gagasan, dan kemampuan untuk menciptakan nilai.

Nilai itu bisa berupa pelayanan, produk, pengetahuan, teknologi, keterampilan, atau solusi bagi masyarakat.

Ketika seseorang mampu menciptakan nilai, pekerjaan biasanya akan mengikuti.

Bahkan, bukan tidak mungkin ia akan membuka pekerjaan bagi orang lain.

9. Pertanyaan yang Seharusnya Diajarkan di Kampus

Mungkin kampus tidak cukup hanya mengajarkan mahasiswa menjawab soal ujian.

Kampus juga perlu membiasakan mahasiswa menjawab pertanyaan-pertanyaan kehidupan.

  • Masalah apa yang terjadi di sekitar kita?
  • Mengapa masalah tersebut belum terselesaikan?
  • Kemampuan apa yang bisa kita gunakan?
  • Solusi apa yang bisa kita tawarkan?
  • Siapa yang membutuhkan solusi tersebut?
  • Bagaimana solusi itu dapat memberikan manfaat dan penghasilan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang dapat mengubah seorang lulusan dari pencari pekerjaan menjadi pencipta peluang.

10. Gelar Adalah Awal, Bukan Akhir

Pada akhirnya, pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya mencetak pencari kerja maupun pengusaha.

Pendidikan tinggi seharusnya mencetak manusia yang mampu berpikir, belajar, beradaptasi, dan menciptakan manfaat.

Ada yang menggunakan kemampuannya untuk bekerja di perusahaan.

Ada yang memilih menjadi aparatur negara.

Ada yang menjadi tenaga profesional.

Ada pula yang membangun usaha dan membuka lapangan kerja.

Semuanya memiliki peran masing-masing.

Namun, gelar sarjana tidak seharusnya membuat seseorang merasa berhak mendapatkan pekerjaan yang nyaman.

Gelar seharusnya membuat seseorang memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menggunakan ilmunya.

Jadi, daripada terus bertanya:

“Siapa yang mau mempekerjakan saya?”

Mungkin kita perlu mulai bertanya:

“Masalah apa yang bisa saya selesaikan, dan manfaat apa yang bisa saya ciptakan?”

Sebab, masa depan tidak selalu diberikan dalam bentuk lowongan pekerjaan.

Terkadang, masa depan harus kita ciptakan sendiri.

Post a Comment