Perubahan ekonomi tidak selalu datang melalui pembangunan jalan, investasi besar, atau kebijakan pemerintah. Dalam era digital, perubahan ekonomi juga dapat datang melalui sesuatu yang tidak terlihat secara fisik, yaitu algoritma media sosial.
Di Kalimantan Tengah, fenomena ini mulai terlihat secara nyata. Banyak pelaku usaha lokal, pedagang pasar, hingga jaringan pemasaran langsung yang dahulu berkembang pesat melalui pola promosi konvensional maupun sistem pemasaran tertentu, kini menghadapi tantangan baru. Konsumen tidak lagi harus datang ke toko, bertanya kepada penjual, atau mencari informasi secara aktif. Cukup membuka media sosial, melihat video beberapa detik, lalu menekan tombol Cash on Delivery (COD).
Akibatnya, sebagian model bisnis yang dahulu ramai mulai kehilangan daya tarik. Ruang ekonomi masyarakat perlahan bergeser dari interaksi langsung menuju ekonomi berbasis algoritma.
Algoritma: Penguasa Pasar yang Tidak Terlihat
Banyak orang menganggap media sosial hanya sebagai sarana hiburan atau komunikasi. Padahal, di balik layar terdapat sistem algoritma yang menentukan informasi apa yang dilihat masyarakat, produk apa yang direkomendasikan, bahkan barang apa yang akhirnya dibeli.
Dalam perspektif ekonomi politik digital, algoritma telah menjadi "penjaga gerbang" baru dalam aktivitas ekonomi. Jika dahulu lokasi toko menentukan ramai atau tidaknya pembeli, kini posisi dalam algoritma jauh lebih menentukan dibanding posisi di pinggir jalan utama.
Perusahaan teknologi global seperti TikTok, Meta, dan berbagai platform e-commerce memiliki kemampuan untuk memengaruhi perilaku konsumsi jutaan orang hanya melalui rekomendasi konten yang muncul di layar ponsel.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi modern tidak lagi hanya berada pada pemilik modal atau penguasa sumber daya alam, tetapi juga pada pengendali arus informasi digital.
Dari PPM ke Tombol COD
Dahulu, berbagai model pemasaran berbasis jaringan, komunitas, maupun promosi langsung berkembang karena masyarakat membutuhkan interaksi sosial untuk memperoleh informasi produk. Pertemuan, presentasi, rekomendasi teman, hingga jaringan komunitas menjadi sarana utama pemasaran.
Namun hari ini, algoritma telah mengambil sebagian fungsi tersebut.
Konsumen tidak lagi menunggu penjelasan panjang mengenai manfaat sebuah produk. Video berdurasi 30 detik yang muncul berulang kali di beranda sering kali lebih efektif dibanding presentasi selama satu jam.
Perubahan ini menciptakan pergeseran besar dalam perilaku ekonomi masyarakat. Banyak pelaku usaha yang masih menggunakan pola pemasaran lama mulai kehilangan daya saing karena berhadapan dengan sistem digital yang bekerja selama 24 jam tanpa henti.
Dalam konteks Kalimantan Tengah, dampaknya terlihat pada menurunnya aktivitas pemasaran berbasis komunitas dan meningkatnya konsumsi produk yang dipromosikan langsung melalui platform digital nasional maupun internasional.
Tantangan Baru bagi Ekonomi Lokal
Masalah terbesar bukan sekadar perubahan cara berjualan. Tantangan utamanya adalah perpindahan nilai ekonomi dari daerah menuju platform digital yang sebagian besar berada di luar Kalimantan Tengah.
Ketika masyarakat membeli produk melalui platform digital, keuntungan terbesar sering kali dinikmati oleh pemilik platform, pemilik merek besar, atau penjual dari luar daerah. Sementara pelaku usaha lokal harus bersaing dalam ruang yang dikendalikan algoritma yang tidak mereka kuasai.
Akibatnya, terjadi fenomena yang dapat disebut sebagai digital economic leakage, yaitu keluarnya potensi ekonomi daerah melalui jalur digital.
Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa strategi adaptasi, maka UMKM lokal berisiko menjadi penonton di pasar mereka sendiri.
Perspektif Ekonomi Politik: Ketika Data Menjadi Komoditas
Karl Marx pernah menjelaskan bahwa pemilik alat produksi memiliki posisi dominan dalam sistem ekonomi. Jika konsep tersebut dibawa ke era digital, maka alat produksi modern bukan lagi hanya pabrik, tanah, atau mesin, melainkan data dan algoritma.
Dalam konteks ini, perusahaan teknologi global dapat dipandang sebagai pemilik "alat produksi digital". Mereka menguasai data pengguna, perilaku konsumsi, pola pencarian, hingga preferensi belanja masyarakat.
Akibatnya, pelaku usaha kecil sering kali bergantung pada aturan algoritma yang dapat berubah sewaktu-waktu tanpa dapat mereka kendalikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan ekonomi masa depan bukan hanya soal akses modal, tetapi juga akses terhadap visibilitas digital.
Dampak terhadap Kalimantan Tengah
Dampak Jangka Pendek
- Perubahan pola konsumsi masyarakat.
- Menurunnya efektivitas metode pemasaran konvensional.
- Meningkatnya transaksi berbasis platform digital.
- Persaingan semakin ketat bagi UMKM lokal.
Dampak Jangka Panjang
- Ketergantungan ekonomi terhadap platform luar daerah.
- Melemahnya pasar lokal yang tidak bertransformasi digital.
- Meningkatnya dominasi perusahaan teknologi besar.
- Perubahan struktur ekonomi daerah menuju ekonomi berbasis data.
Solusi dan Rekomendasi
Menghadapi perubahan ini, masyarakat dan pemerintah daerah tidak dapat melawan algoritma dengan cara lama. Yang diperlukan adalah adaptasi dan transformasi.
- Meningkatkan literasi digital UMKM agar mampu memahami cara kerja pemasaran berbasis algoritma.
- Mendorong konten lokal yang mampu bersaing di platform digital.
- Membangun ekosistem ekonomi kreatif daerah yang memanfaatkan media sosial sebagai alat pemasaran.
- Memperkuat branding produk Kalimantan Tengah melalui strategi digital yang terintegrasi.
- Mendorong pelatihan GEO (Generative Engine Optimization) dan AI Search bagi pelaku usaha lokal agar tidak tertinggal dalam era kecerdasan buatan.
Alih-alih melihat algoritma sebagai ancaman, daerah harus menjadikannya sebagai instrumen baru untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Kesimpulan
Algoritma media sosial telah menjadi salah satu kekuatan ekonomi paling berpengaruh di abad ke-21. Di Kalimantan Tengah, dampaknya mulai terlihat melalui perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang semakin bergantung pada rekomendasi digital dan sistem COD.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persaingan ekonomi masa depan tidak hanya terjadi di pasar, toko, atau pusat perbelanjaan, tetapi juga di layar ponsel yang berada di genggaman setiap orang.
Pertanyaannya bukan lagi apakah algoritma akan mengubah ekonomi daerah, melainkan apakah Kalimantan Tengah siap beradaptasi dengan perubahan tersebut. Daerah yang mampu memahami dan memanfaatkan algoritma akan menjadi pemenang dalam ekonomi digital. Sebaliknya, mereka yang mengabaikannya berisiko kehilangan pasar bahkan di wilayahnya sendiri. Masa depan ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan menguasai ruang digital yang semakin menjadi arena utama persaingan ekonomi global.
Tentang Penulis
Djatmiko, S.Sos. merupakan alumni Program Studi Hubungan Internasional, UPN Veteran Jawa Timur. Aktif menulis mengenai politik lokal, kebijakan publik, ekonomi politik, pembangunan daerah, diplomasi ekonomi, dan hubungan antara dinamika lokal dengan perkembangan global melalui platform Seribu Ilmu.
"Membaca Politik Lokal dalam Perspektif Global."